Search This Blog:

Select Language To Translate Articles Here:

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Saturday, August 10, 2019

Review Resensi Sinopsis Film Asterix The Secret Of The Magic Potion Film Animasi Kesepuluh Dari Franchise Film Asterix


 
Film Asterix: The Secret Of The Magic Potion adalah film animasi kesepuluh dari serial animasi Asterix yang diadaptasi dari komik cerita anak dari Prancis dengan tokoh utama bernama Asterix.

Komik cerita anak Asterix merupakan serial komik yang terkenal dan disukai oleh anak-anak di Prancis dan di seluruh dunia dengan omset penjualan yang cukup tinggi serta sudah diterjemahkan ke dalam 111 bahasa di dunia.

Komik Asterix ini mulai diterbitkan pada tahun 1961 dan sampai sekarang masih terus dibuat komiknya. Hingga kini seri komik Asterix sudah dibuat sampai jilid ke-38 yang terbit pada tahun 2019. Komik Asterix ditulis oleh Rene Goscinny pada tahun 1959 – 1979, dilanjutkan oleh Albert Uderzo pada tahun 1980 – 2009, dan Jean-Yves Ferri pada tahun 2013 – sekarang. Kesuksesan komik Asterix telah menjadikan Rene Goscinny dan Albert Uderzo sebagai pengarang Prancis paling laku di dunia Internasional.
 
Asterix The Secret Of The Magic Potion
 

Saking terkenalnya komik Asterix ini, nama Asterix kemudian diabadikan menjadi nama dari sebuah Theme Park terkenal di Paris yang bernama Parc Asterix, yang mulai dibuka pada tahun 1989. Taman ini merupakan salah satu tempat wisata di Prancis yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan di seluruh dunia. Nama Asterix juga diabadikan menjadi nama dari satelit pertama di Prancis, yaitu  Asterix-1 yang diluncurkan pada tahun 1965.

Karena disukai oleh banyak pembaca, komik ini lalu dibuatkan versi filmnya, baik versi animasi maupun live action. Selain itu juga ada versi video game-nya. Tercatat sudah dibuat sebanyak 10 buah film animasi dan 4 buah film live action.
 

Adapun daftar film-film animasi Asterix yang sudah dibuat adalah sbb.:

No.
Tahun
Judul
Sutradara
1
1967
Asterix The Gaul
Ray Goossens
2
1968
Asterix And Cleopatra
Rene Goscinny, Lee Payant & Albert Uderzo
3
1976
The Twelve Tasks Of Asterix
Rene Goscinny, Albert Uderzo, Pierre Watrin & Henri Gruel
4
1985
Asterix Versus Caesar
Gaetan & Paul Brizzi
5
1986
Asterix In Britain
Pino Van Lamsweerde
6
1989
Asterix And The Big Fight
Philippe Grimond, David N. Weiss
7
1994
Asterix Conquer America
Gerhard Hahn
8
2006
Asterix And The Vikings
Stefan Fjeldmark, Jesper Moller
9
2014
Asterix And The Mansions Of The Gods
Alexandre Astier, Louis Clichy
10
2018
Asterix: The Secret Of The Magic Potion
Alexandre Astier, Louis Clichy

Kisah di komik Asterix terjadi di negeri Gaul, sebuah tempat fiksi antah berantah di benua Eropa. Pada tahun 50 SM, penjajah Romawi di bawah pimpinan Julius Caesar berhasil menduduki Gaul. Meskipun begitu, ada sebuah desa kecil bernama Galia di negeri Gaul yang penduduknya masih tetap gigih berjuang mempertahankan desanya dari pendudukan Romawi. Di desa kecil inilah Asterix hidup.

Cerita lantas berpusat di desa ini dengan melukiskan perjuangan dari para penduduk desa dalam usahanya melawan kaum penjajah dengan bermodalkan sebuah ramuan ajaib yang bisa memberikan kekuatan super bagi yang menerimanya. Ramuan ajaib ini dibuat oleh Kakek sesepuh desa bernama Getafix.

Ramuan ajaib ini diminum oleh Asterix, yang menjadi tokoh sentral dalam kisah di komik ini, sekaligus juga pahlawan di desa Galia. Asterix berjuang melindungi desanya dibantu oleh seorang temannya yang bernama Obelix yang juga memiliki kekuatan super dari ramuan ini. Bedanya, Obelix mendapatkan kekuatan dari ramuan karena terjatuh ke dalam godokan ramuan saat masih bayi. Mereka melakukan petualangan-petualangan yang sangat seru dan menarik, baik di desa mereka tinggal maupun sampai jauh ke luar negeri.

Yang menarik dari komik Asterix ini ialah ceritanya yang dibalut dengan unsur humor, baik melalui dialog yang diucapkan oleh karakter-karakter dalam komiknya maupun lewat ilustrasi gambarnya, sehingga Asterix pun dikenal sebagai komik anak yang lucu. Jadi tak heran, jika komik ini begitu digemari oleh anak-anak di seluruh dunia. Demikian inti cerita dari serial komik Asterix ini.
 


Nah, Film Asterix: The Secret Of The Magic Potion menceritakan tentang Getafix yang terjatuh dari pohon, sehingga tidak dapat lagi mencari dan mengumpulkan bahan untuk pembuatan ramuan obat ajaibnya. Keadaan ini membuat Asterix dan Obelix melakukan petualangan lagi ke luar dari desanya untuk mencari calon murid penerus Getafix yang bisa melanjutkan usahanya dalam pembuatan ramuan obat. Sementara ini sepeninggal Asterix, desa mereka kembali terancam oleh serangan dari pasukan Romawi yang dipimpin oleh Tomcrus, juga rencana jahat dari seorang penyihir bernama Sulfurix yang ingin mencuri resep rahasia pembuatan ramuan ajaib milik Getafix.

Mampukah Asterix dan Obelix menemukan sang calon penerus Getafix, sekaligus mengusir tentara Romawi dari desa mereka dan menggagalkan rencana dari sang penyihir jahat?

Untuk mengetahui jawabannya, kita harus menonton dulu film ini, yang sudah tayang pada tanggal 7 Agustus 2019!

Film ini disutradarai oleh Louis Clichy dan Alexandre Astier yang juga menjadi duo Sutradara dari film animasi ke-9 yang berjudul Asterix And The Mansions Of The Gods. Alexandre Astier juga merangkap sebagai penulis skenario dari film ini. Film ini sudah beredar di Prancis pada tanggal 5 Desember 2018. Tapi di Indonesia, film ini baru tayang pada bulan Agustus 2019.

Asterix disuarakan oleh Christian Clavier, seorang Aktor, Penulis Skenario, Sutradara dan Produser Film dari Prancis yang cukup dikenal. Sedangkan Obelix disuarakan oleh Guillaume Briat. Getafix disuarakan oleh Bernard Alane. Daniel Mesguich sebagai Sulfurix. Dan Levanah Solomon sebagai Pectine.

Bagi penggemar komik Asterix, jangan sampai melewatkan film animasi ini, ya!
 
Note:
 
Sumber Foto: https://sogou.com
 
 
********








Review Resensi Sinopsis Film Scary Stories To Tell In The Dark Teror Hantu Dari Sebuah Buku Cerita


 
Film horor ini merupakan adaptasi dari buku serial horor anak-anak berjudul Scary Stories To Tell In The Dark yang ditulis oleh Alvin Schwartz.

Pada tahun 2013, studio CBS Films membeli hak pembuatan film ini dan menggandeng Guillermo Del Toro, Sineas pembuat film horor terkenal Amerika yang juga pemenang Academy Awards untuk Sutradara terbaik tahun 2017 dalam film The Shape Of Water untuk mengadaptasi cerita ini ke dalam film layar lebar. Del Toro menulis ulang skrip dari cerita ini yang sebelumnya ditulis oleh John August,  Patrick Melton dan  Marcus Dunstan, dan  bahkan Del Toro menjadi salah seorang dari Produsernya. Mereka lalu menyewa Kevin dan Dan Hageman untuk menulis skenario dari film ini. Kemudian pihak studio menunjuk Sutradara Norwegia pembuat film Troll Hunter,  Andre Ovredal untuk menjadi Sutradara dari film ini.
 
Scary Stories To Tell In The Dark
 
Scary Stories To Tell In The Dark menceritakan seorang gadis penulis pemula cerita horor bernama Stella yang saking terobsesinya dengan kisah horor, lalu mengajak kedua orang temannya, Chuck dan Auggie untuk menyelidiki sebuah rumah berhantu milik keluarga Bellows di kota Mill Valley. Di dalam sebuah ruang rahasia di rumah itu, mereka menemukan sebuah buku cerita yang seram milik Sarah Bellows.

Ternyata buku cerita itu bisa menulis sendiri kisahnya. Dan setiap satu judul cerita akan mengambil kisah dengan tokoh utama yang berasal dari anak-anak muda yang masuk ke dalam rumah itu. Kemudian hantu-hantu di dalam cerita tersebut  akan meneror dan membunuh para tokoh utamanya. 
 

Untuk menghentikan aksi dari hantu-hantu tersebut, para anak muda itu harus bisa menemukan caranya. Dan mampukah Stella dan teman-temannya menemukan caranya? Untuk mengetahui jawabannya, silahkan kita saksikan sendiri di bioskop, ya!

Ada pun pemeran anak-anak muda tersebut adalah Zoe Colleti sebagai Stella Nichols, Michael Garza sebagai Ramon Morales, Gabriel Rush sebagai Augus Auggie Hilderbrandt, Austin Zajur sebagai Chuck, Austin Abrams sebagai Tommy Milner, Natalie Ganzhorn sebagai Ruth Steinberg, Kathleen Pollard sebagai Sarah Bellows. Para pemeran anak-anak muda di film ini kebanyakan merupakan pendatang baru.
 

Pengambilan gambar film ini dilakukan di St. Thomas, Ontario, Kanada mulai bulan Agustus 2018 dan berakhir pada bulan November 2018.

Film ini merupakan join produksi dari studio film Amerika dan Kanada, melibatkan 4 buah studio film, yaitu CBS Films, Entertainment One, 1212 Entertainment, Double Dare You Productions dan Sean Daniel Company dengan Lionsgate sebagai distributor filmnya. 
 
Bujet produksi untuk film ini terbilang kecil, hanya menelan biaya sekitar USD 28 juta. Maklum saja karena film ini diproduksi oleh studio film kecil, yang mana bisa dikategorikan sebagai film horor kelas B saja.
 


Film ini mulai ditayangkan di Amerika dan Indonesia pada tanggal 9 Agustus 2019. Dan yang mengejutkan, sejauh ini film ini telah berhasil mendapat rating sebesar 80% dari situs Rotten Tomatoes. Ini pertanda bahwa film ini mendapat review yang bagus dari para kritikus. Rata-rata mereka memuji unsur dan atmosfir horornya serta sinematografi dari film ini. Tapi ada juga yang mengkritik skenario dan ceritanya secara keseluruhan. Dan di awal penayangannya, film ini juga sudah meraih pendapatan yang cukup menggembirakan. Kita tunggu saja hasil akhir dari filmnya setelah tiga bulan mendatang.
 

Menurut S-Mov film horor ini cukup fresh. Hantu-hantunya cukup unik dan menyeramkan. Ada hantu orang-orangan sawah, hantu di puri tua, hantu ngesot, hantu yang kehilangan jari, hantu yang mencari anak, dsb. Film horor ini tidak kacangan. Ceritanya juga cukup menarik. 


Di sini akting para pemain tidak menonjol, karena yang dipentingkan oleh film ini adalah segi horornya semata. Para pemainnya juga bukan pemain terkenal, melainkan hanya pendatang baru belaka.


Bagi penggemar film horor dengan tema baru, film ini merupakan sebuah pilihan yang bagus.


Note:

Sumber Foto: https://sogou.com
 
 

**********  

Review : ***  

Parameter Review: 

*****     : Hebat

****       : Bagus

***         : Menarik

**           : Biasa-biasa saja

*             : Jelek








Thursday, August 8, 2019

Review Resensi Sinopsis Film Dora And The Lost City Of Gold Film Live Action Dari Serial Animasi Dora The Explorer

Dora And The Lost City Of Gold adalah film live action dari Serial Animasi anak-anak Dora The Explorer yang tayang di saluran televisi kabel Nickelodeon dan saluran Nick Jr pada tahun 2000. Serial animasi keluarga ini diproduksi oleh Nickelodeon Animation Studio, merupakan kreasi dari trio Chris Gifford, Valerie Walsh Valdes dan Eric Weiner. Serial animasi ini cukup sukses saat ditayangkan di Amerika dan di seluruh dunia. 
 
Dora And The Lost City Of Gold

Dora The Explorer telah dibuat sampai season 8 dengan jumlah episode sebanyak 172 dengan durasi per episode 22 menit sampai dengan 45 menit (untuk special episode). Di Amerika, serial ini tayang pertama pada tahun 1999, dan mulai ditayangkan secara regular pada tahun 2000 sampai dengan tahun 2006. Setelah penayangan  serial ini selesai, lanjutannya kembali dibuat dengan judul Dora And Friends: Into The City. Sampai sekarang serial ini masih ditayangkan oleh saluran televisi dunia lainnya.

Di Indonesia, serial ini pernah ditayangkan oleh Lativi (sekarang TV One) dan Global TV. Di dalam beberapa episode dari serial ini ada disisipkan percakapan dalam Bahasa Spanyol. Oleh banyak pemirsa, tayangan ini juga dipakai sebagai bahan untuk mempelajari Bahasa Spanyol. 
 

Dora The Explorer menceritakan petualangan seorang gadis cilik berkebangsaan Latin berusia 7 tahun yang senang menjelajahi dunia bersama keranya yang bernama Boots di dalam misinya untuk membantu teman atau demi mencari sesuatu benda. Di dalam petualangannya, Dora biasanya mendapatkan bantuan dari keluarga, saudara, teman, hewan, tumbuhan dan benda-benda yang bisa berbicara. Dora juga akan meminta bantuan dari para penonton untuk membantunya mengambil keputusan dari sekian banyak alternatif pilihan yang ada dalam setiap petualangannya,  sehingga para penonton akan merasa mereka juga diikutsertakan untuk terlibat di dalam petualangannya. Inilah yang menarik dari serial animasi ini.

Di dalam setiap petualangannya, Dora akan selalu menjumpai kesulitan berupa hambatan dan gangguan yang dilakukan oleh seekor rubah bernama Swiper, yang selalu berusaha mencari kesempatan untuk mencuri benda-benda yang dibutuhkan Dora dalam perjalanannya. Demikian garis besar cerita di dalam petualangan Dora dalam serial ini.
 

Sedangkan di film Dora And The Lost City Of Gold menceritakan kisah petualangan Dora beserta saudara dan teman-temannya dalam rangka untuk menyelamatkan kedua orang tua Dora dan sekaligus misi untuk memecahkan misteri di balik hilangnya peradaban Kerajaan Inca kuno di pedalaman Columbia, Amerika Selatan. Hanya saja Dora di film live action ini diceritakan sudah berusia remaja dan bukan gadis cilik lagi seperti di serial animasinya.

Film ini disutradarai oleh James Bobin, Sutradara Inggris yang pernah menyutradarai Film Muppets Most Wanted dan Alice Through The Looking Glass.

Dora diperankan oleh Isabela Moner, Aktris Remaja Amerika yang berusia 18 tahun. Kita pernah menyaksikan akting Isabela di film Transformers: The Last Knight.


Diego, saudara sepupu Dora diperankan oleh Jeff Wahlberg, Eugenio Derbez sebagai Alejandro Gutierrez, Michael Pena sebagai Cole, Ayah Dora dan Eva Longoria sebagai Elena, Ibu Dora.

Boots, kera Dora disuarakan oleh Danny Trejo, aktor yang dikenal lewat Film aksi Machete.  Sedangkan Swiper, sang rubah disuarakan oleh Benicio Del Toro, aktor latin kawakan yang juga pemenang Academy Awards.

Pengambilan gambar film ini dilakukan di Gold Coast, Queensland, Australia pada bulan Agustus 2018 dan selesai pada bulan Desember 2018.

Film ini menghabiskan bujet sebesar USD 49 juta dan mendapatkan review lumayan dari para kritikus dengan nilai 73% dari situs Rotten Tomatoes. 

Berhubung film-film musim panas sudah berlalu, untuk sekedar tontonan yang menghibur di musim gugur, maka film ini menjadi pilihan yang cukup layak.
 
 
 
 
********

Review : **

 

Parameter Review:

*****     : Hebat

****       : Bagus

***         : Menarik

**           : Biasa-biasa saja

*             : Jelek




Sumber Foto: https://sogou.com