Drama GL ini adalah buatan China, guys. Jadi jika info di deskripsi
dibilang ini adalah drama buatan Singapura, itu adalah bohong, guys. Mereka
mencantumkan nama Singapura, adalah semata-mata demi taktik aman. Karena drama
ini bukan soft gl, jadi kreator takut produk mereka ini kena cekal, jadi
sengaja dicantumkan made in Singapore, supaya produk mereka ini bisa lolos
tayang tanpa ada hambatan. Jadi maklumin aja, guys. Soalnya negara China
melarang penayangan drama atau film bertema LG.

Kalau dibilang hard gl, sebenarnya juga kurang tepat. Karena gak ada
adegan yang sensitif di dalamnya. Gak ada adegan yang kelewat berani. Yang
paling berani hanya sebatas adegan cium saja. Itu juga gak eksplisit. Jadi bagi
kalian para penggemar drama bertema soft gl, drama ini masih termasuk aman
untuk disaksikan. Kalian jangan khawatir dengan drama GL buatan China, meskipun
dilabeli sebagai hard GL, adegannya masih terhitung halus. Mereka masih belum
terlalu berani untuk membuat yang lebih dari itu. Jadi tenang aja.
Bagaimana drama ini jika dibandingkan dengan drama WKGL?
Masih lebih berani drama WKGL. Tapi plot ceritanya drama Candy lebih
bagus daripada WKGL. WKGL itu konsepnya gak ada juga gak jelas, cuma sekedar
meniru drama GL Thai saja. Masih mending nonton Candy. Paling tidak masih ada
ceritanya.
Jadi bagi kalian yang berharap drama ini bisa seperti yang kalian
saksikan di dalam drama GL Thai misalnya, yang pada hakikatnya lebih berani dan
lebih eksplisit, maka kalian akan kecele, harapan kalian akan kandas. Karena
kalian tidak akan bisa menjumpai hal-hal yang seperti ini.
Aku suka risih sih jika membaca komen-komen yang dibuat oleh netizen
saat mengomentari sebuah drama. Yang mereka pertanyakan duluan adalah adegan
ciumnya.
Ada gak sih adegan kiss-nya?
Banyak kiss gak? Sering gak?
Kayak gitu, guys. Kayaknya kalau gak ada kiss, itu drama pasti gak bakal
ditonton gitu. Jadi kalau banyak kiss, mereka akan tonton, kalau gak ada,
mereka gak akan nonton. Gitu. Sampai-sampai ada yang ekstrim kayak begini,
kalau gak ada kiss, drama atau film itu akan dianggap jelek bagi mereka.
Lah kalian itu mau nonton drama atau mau nonton kiss sih?
Emangnya kenapa kalau gak ada kiss? Kan nonton drama itu kita nonton
ceritanya, bagus atau tidak, itu yang paling penting. Bukan kiss nya!
Kayaknya netizen kayak begini, kudu disodorin dengan film berdurasi 2
jam aja yang isinya kiss semua, yang gak ada jalan ceritanya sama sekali baru
dia puas. Supaya dia bisa puas-puasin nafsunya sampai dibawa tidur.
Yang lebih ekstrim lagi, bahkan ada netizen yang mengomentari bahwa para
aktrisnya gak tahu bagaimana harus mencium !
Ya ampun!
Maksudnya kurang hot gitu kali ya? Adegannya gak se-hot seperti yang ada
di dalam drama Thai, begitu mungkin!
Astaganaga!
Sayang sekali, kalian-kalian ini gak tahu gimana harus mengapresiasi
sebuah drama. Sedangkal itu pula selera kalian. Aku lihat fenomena ini
mendominasi di kalangan para pecinta drama khususnya yang bertema LG. Perkiraan
aku, mungkin sebanyak 80% netizen adalah kelompok penonton yang seperti ini.
Sayang sekali!
Tapi drama ini banyak juga adegan ciumnya. Apalagi couple kedua. Kreator
drama ini kayaknya mau meniru gaya Thai gl juga, tapi karena terbentur oleh
larangan ini larangan itu, jadinya gaya Thai gl nya malah tanggung.
Aku sih gak peduli ya, mau ada atau gak ada soal adegan kiss ini. Yang
penting buat aku itu plot cerita dan konsepnya. Bagiku membahas konsep cerita
itu jauh lebih asyik dan lebih worth it ketimbang memimpikan adegan kiss.
Di dalam tulisan kali ini, sengaja aku tidak akan membahas tentang alur ceritanya secara mendetail. Kalian bisa mencari dramanya dan menontonnya sendiri. Gak perlu lagi
aku yang ceritain di sini. Supaya gak spoiler juga, bagi yang belum menonton.
Di sini aku hanya akan membahas hal-hal kecil dari drama ini, disertai
opini, kesan, pandangan dan perasaan yang kudapatkan saat menonton drama ini. Poin-poin
inilah yang aku sarikan ulasannya di dalam artikel ini.
Lalu apa konsep dari drama gl ini?
Konsep utamanya adalah tentang gadis problematik yang jatuh cinta pada
gadis inosens.
Itu adalah konsep yang merupakan inti dari drama ini. Tapi konsep ini
dibalut dengan beberapa plot cerita
yang dijadikan bumbu di dalam drama ini. Namanya juga bumbu, sekedar
penyedap cerita, biar ceritanya lebih menarik dan lebih seru. Itu aja sih.
Konsep tentang seorang gadis problematik, itu sebenarnya sebuah konsep cerita yang cukup bagus, bila
kreator bisa menggalinya dan mengembangkannya lebih mendalam secara menarik.
Di 2 episode awal, konsep ini mulai diperkenalkan kepada penonton. Dan
aku merasa konsep ini cukup menjanjikan dan bisa menjadikan cerita drama ini sebuah drama
psikologis GL yang menarik.
Tapi sampai dengan episode 6, konsep tentang gadis problematik ini gak
digali sampai tuntas. Hanya digali sebatas permukaan aja. Sehingga konsep ini
terasa agak datar dan kurang greget. Kesan psikologisnya jadi gak ada dan terasa hambar
juga terasa bukanlah
sesuatu yang penting.
Ternyata oh ternyata...
Konsep ini hanya sekedar bumbu belaka. Ternyata cuma bumbu doang dan
bukanlah sesuatu yang penting. Sayang sekali. Padahal aku sudah berharap
menyaksikan sebuah cerita GL yang bermuatan psikologis yang mendebarkan.
Karena konsep ini hanya merupakan salah sebuah bumbu saja
yang meramaikan cerita ini, jadi kehadiran sang couple kedua pun terasa seperti
bumbu belaka.
Intinya drama ini menceritakan kisah perjuangan si gadis problematik,
bagaimana ia bisa menyambung kembali hubungan percintaannya dengan si gadis
inosens yang dulu pernah mereka bina saat mereka masih di sekolah SMU.
Si gadis problematik ini
berasal dari keluarga broken home. Sejak kecil ia sudah kehilangan ayah. Ibunya
menikah lagi dengan seorang pria jahat. Ibunya adalah seorang wanita pemabuk
dan ayah tirinya ini selalu mencari kesempatan untuk melecehkan anak tirinya
ini.
Si gadis problematik ini lalu berusaha mengakhiri hidupnya, tapi gagal
dan nyawanya berhasil diselamatkan. Ia lalu dibawa pergi oleh bibinya,
meninggalkan rumah ibunya. Saat ia dibawa kabur oleh bibinya, hubungannya
dengan si gadis inosens pun menjadi terputus.
Beberapa tahun kemudian, si gadis problematik sudah berhasil menjelma
menjadi seorang aktris besar yang populer. Tapi kehidupan glamor sebagai aktris
tidak bisa membuat dirinya bahagia.
Gadis problematik ini memiliki banyak musuh di dalam hidupnya.
Ibunya yang pemabuk tidak mau melepaskannya dan terus mengganggu
dan merongrong hidupnya.
Aktris saingannya berusaha untuk menjatuhkannya demi popularitas.
Pria jahat yang menyukainya sejak sekolah secara diam-diam berusaha
untuk menghancurkan karirnya karena sakit hati, karena cintanya bertepuk
sebelah tangan.
Lalu isu pecinta sesama jenis, menjadi sorotan utama bagi para fans
yang dijadikan target utama untuk menjatuhkan reputasi dan karirnya sebagai aktris. Demikian juga tentang isu penghindaran pajak yang menimpanya.
Kemudian dalam usahanya untuk menyambung kembali percintaan dengan si
gadis inosens, juga tak luput tercipta sejumlah kesalahpahaman yang timbul
karena hasutan dan berita yang disebarkan oleh musuh-musuhnya.
Oke, guys. Hanya sebatas ini saja plot cerita yang bisa aku ungkapkan di
sini. Selebihnya kalian harus menontonnya sendiri, ya.
Oh, ada satu
hal lagi. Entah kenapa netizen yang menonton drama ini terus meributkan tentang
aktris yang bermain sebagai tokoh bernama Jiang Wan itu adalah aktris buatan AI.
Ada yang bilang
Jiang Wan ini adalah bikinan AI bukan dimainkan oleh manusia asli. Mereka
bilang mimiknya dan gerak gerik mulutnya saat berbicara tampak gak real. Mereka
curiga itu adalah AI.
Aduh,
netizen...netizen...!
Kalian ini
jangan terlalu berlebihan, bisa gak?
Film Hollywood
aja, sampai sekarang belum ada yang menggunakan AI sebagai pemeran utama.
Apalagi ini yang hanya sebuah drama GL kecil yang penayangannya aja masih di
platform-platform kecil yang gak dikenal luas.
Jadi netizen, jangan
pada sok-sokan yah bilang AI segala. Emang kalian punya buktinya bahwa itu AI?
Ayo, siapa yang bisa buktikan di sini?
Ada-ada aja.
Ngakak baca
komentar netizen....!
Sekarang
tentang aktris pemeran utamanya. Saat menonton drama ini, kesan awalnya seperti
melihat Ji Ya (Wang Lao Ji dan Peng Xiao Ya) yang sedang berakting.
Masa sih?
Itu karena
aktris yang satu sekilas wajahnya mirip Wang Lao Ji dan aktris yang satunya
lagi sekilas mirip Peng Xiao Ya. Hanya bedanya Wang Lao Ji lebih tinggi dari si
aktris dan Peng Xiao Ya lebih pendek daripada aktris yang satunya lagi.
Yang bener?
Ah, mananya
yang mirip? Pasti ada yang protes begini. Hehe...tenang aja! Miripnya hanya
sekilas, cuma di awal-awal aja, kok. Jangan marah dong...para penggemar Ji Ya!
Tapi yang
bermain sebagai Xiao He atau Lin Can, aslinya emang cantik. Cuma jam terbangnya
belum banyak aja, masih terhitung aktris baru. Masih muda pula, baru lulus
kuliah gak lama, langsung terjun ke dunia artis.
Yang satunya
lagi lumayan manis. Punya jam terbang yang lebih banyak, cuma belum memiliki
breakthrough performance aja.
Yang couple
kedua, wajahnya sih biasa-biasa aja. Cuma lebih
berani aja mainnya.
Ada beberapa
elemen atau adegan yang mirip-mirip dengan yang ada di dalam drama-dramanya
Haidao (Zhang Zhi Wei), yaitu Legend Of Yun Ze Special, A Practical Guide To Be
A Superstar’s Assistant dan Ye Mu 2.
Barangkali
kreator drama ini juga adalah penggemar drama-drama Haidao.
Ok, segitu aja
yang bisa dicatat dari drama ini.
JUDUL:
CANDY – 糖果.
Tahun: 2026.
Jenis: Drama
Berdurasi Menengah.
Genre: Drama
GL.
Produksi:
China.
Tayang Tanggal:
16 Januari 2026.
Tayang Di:
GagaOOLala.
Bisa Ditonton
Di:
GagaOOLala,
Youtube dan Bstation.
Jumlah Episode:
8.
Durasi Per Episode:
30 menit.
Pemain:
Sun Yan Qing 孙琰清 sebagai Wen Nuan Nuan (gadis
inosens).
Lu Xin 路昕 sebagai Xiao He atau Lin Can (gadis
problematik).
Zhang Rui Yi 张睿怡 sebagai Jiang Wan.
Ke Xin 珂欣 sebagai Si Han.
**********
Sumber Foto: https://sogou.com