Search This Blog:

Select Language To Translate Articles Here:

English French German Spain Italian Dutch Russian Portuguese Japanese Korean Arabic Chinese Simplified

Saturday, November 16, 2024

Review Drama Thailand The Empress Of Ayodhaya

Di tengah maraknya drama-drama gl dan bl buatan negara Thailand yang beredar sekarang, kemunculan dari sebuah drama klasik bertema kerajaan dengan latar belakang sejarah dari negara gajah putih ini terasa cukup menyegarkan yang boleh dikata lumayan menggembirakan, karena penonton gak melulu disuguhi dengan tema gl atau bl terus-menerus yang lama-lama tentu akan terasa membosankan juga.


Drama klasik berjudul The Empress Of Ayodhaya ini sebenarnya mengusung plot cerita yang tak jauh berbeda dengan plot cerita yang ada di dalam mayoritas drama-drama klasik kerajaan buatan dari negeri China selama ini.

Kalau bagi kalian yang merupakan penonton setia dari genre drama klasik kerajaan buatan China tentu sudah paham benar tentang cerita seperti ini. Biasanya jualan utama dari drama dengan tema seperti ini adalah tentang kisah perebutan kekuasaan di antara para keturunan raja, adu strategi politik di dalam istana dan yang tak ketinggalan adalah intrik dan pertarungan di dalam harem istana belakang antara permaisuri dan para selir raja guna mempertahankan dan merebut posisi tertinggi sebagai pendamping sang raja.


Kisah seperti ini dijamin pasti sangat seru alur ceritanya. Oleh sebab itu para kreator dari drama jenis ini selalu menciptakan tokoh protagonis yang amat lihai otaknya, bermental baja dengan kecerdasan dan kepribadian yang sangat kuat dan tangguh. Demikian juga dengan karakter para tokoh antagonisnya pasti akan dibuat sebagai tokoh yang amat jahat, licik dan culas, yang pandai bermain politik dan menghalalkan segala cara untuk memperoleh kekuasaan.

Jadi jelas sekali dengan plot cerita yang seperti ini, para penonton akan dibuat terkesima dan setia mengikuti jalan ceritanya yang amat seru yang terjadi antara tokoh protagonis dan antagonisnya untuk mengetahui bagaimana akhir dari ceritanya sampai tamat.


Kreator drama ini sangat jeli untuk mengedarkan drama ini di tengah maraknya gempuran dari drama gl dan bl yang sudah beredar sebelumnya yang kelihatannya juga sudah berhasil menciptakan fanbase di seluruh dunia.

Para penonton gl dan bl inilah yang bakalan tertarik pertama kali untuk menonton duluan, karena mereka ini memang sudah menjadi penggemar setia dari drama-drama buatan Thailand.


Tokoh utama wanita di dalam drama ini adalah Jinda, seorang gadis yang merupakan putri dari Lord Lopburi yang merupakan keturunan dari dinasti Lavo.

Sayangnya dinasti Lavo hancur di tangan Phra Chairacha, seorang pahlawan perang yang berhasil merebut kekuasaan dan mendirikan sebuah kerajaan baru bernama Ayodhaya. Pria ini lalu mengangkat diri menjadi raja di sana.


Jinda mendapat misi untuk merebut dan mengembalikan lagi kejayaan dari dinasti Lavo. Demi mewujudkan misinya ini, Jinda rela berpisah dengan Wamon, pria kekasihnya dan merendahkan dirinya untuk dijadikan selir dari raja Ayodhaya ini.

Tapi jalan yang harus ditempuh oleh Jinda penuh dengan hambatan. Karena di dalam harem istana belakang dari raja Ayodhaya sudah menunggu 3 orang wanita yang merupakan selir-selir dari raja. Wanita-wanita ini juga saling bersaing dan menunggu kesempatan untuk bisa diangkat sebagai permaisuri dari raja.


Tidak terlalu jauh berbeda kan plot cerita yang seperti ini dengan drama China yang bertema kerajaan?

Mungkin ada perbedaan yang cukup kentara antara drama China dan drama Thailand. Yaitu drama Thailand lebih berani dalam menampilkan adegan romance, sedangkan drama China lebih halus. Rata-rata artis Thailand juga lebih berani beradegan romantis dan melakukan adegan panas.


Drama Thailand ini juga ditayangkan oleh Netflix sehingga bisa ditonton secara lebih luas oleh para fans internasional.

Di saat penayangannya, drama ini malah menuai kontroversi karena terdapat adegan seekor kucing yang dibius. Banyak penonton yang khawatir soal keselamatan dari kucing ini dan mereka mencurigai telah terjadi kekejaman terhadap kucing di dalam pembuatan drama ini.


Di dalam episode 5, diperlihatkan ada seekor kucing hitam yang dipaksa minum sesuatu larutan, yang kemudian kucing itu mengalami kejang-kejang sebelum mati. Penonton curiga kucing ini benar-benar diracun sampai mati di saat syuting berlangsung. Penonton menganggap adegan seperti ini bisa dibuat dengan teknologi CGI yang sudah canggih, tapi kenapa harus memilih cara seperti ini?

Akhirnya peristiwa ini mengundang kontroversi dan pihak Departemen Pengembangan Ternak Thailand terpaksa turun tangan untuk menyelidiki peristiwa ini.


Pihak One31 sebagai pihak yang bertanggungjawab atas penyiaran drama ini akhirnya memberikan pernyataan bahwa kucing itu memang diberikan obat bius tapi di bawah pengawasan dari para ahli yang bekerja di perusahaan agensi khusus hewan yang sudah berpengalaman kerja selama 10 tahun. Namun masyarakat masih tetap mempertanyakan apakah proses ini dilakukan dengan aman oleh dokter yang benar-benar memiliki lisensi di dalam bidang ilmu kedokteran hewan.


Kemudian pihak departemen peternakan Thailand meminta agar pihak One31 untuk menghadirkan kucing tersebut guna memastikan bahwa kondisinya benar-benar masih hidup.

Akhirnya sang sutradara, yaitu Sant Srikaewlaw menyatakan di dalam akun facebooknya, bahwa kucing tersebut sehat dan kondisinya baik-baik saja setelah diberi obat bius. Ia memposting sebuah video untuk membuktikan kondisi kucing tersebut dan berjanji akan memberikan hasil pemeriksaan kesehatan secara tertulis atas kondisi kucing tersebut.


Meskipun demikian, kasus ini masih tetap menuai perhatian yang luas dari masyarakat, bahkan PETA (People Of The Ethical Treatment Of Animals) sampai ikut buka suara tentang kasus ini.

Peristiwa ini mirip-mirip dengan kejadian yang menimpa drama China, yaitu Marvelous Women 当家祖母. Di dalam drama Marvelous Women, ada sebuah adegan kucing yang tidak sengaja telah memakan racun, yang sebenarnya bukan diperuntukkan untuk dirinya, melainkan ditujukan kepada manusia. Akhirnya kucing tersebut mati.


Para pemirsa mencurigai bahwa kucing itu benar-benar diracun sampai mati saat sedang syuting. Lalu hal ini menimbulkan protes dari masyarakat. Lalu banyak netizen yang mengajak orang-orang untuk memblokir drama ini. Akhirnya setelah tim drama mengklarifikasi dengan disertai dengan bukti bahwa kucing itu masih hidup, urusannya baru selesai.

Tapi drama Marvelous Women ini sudah terkena dampak negatif dari pemberitaan ini dan view-nya menjadi turun banyak, padahal semestinya bisa meraih jumlah penonton yang lebih banyak, karena sebenarnya drama ini bagus.

Perubahan Karakter Dari Tokoh Utama !

Bertolak belakang dengan drama klasik kerajaan buatan negeri China, tokoh utama di dalam drama Thailand ini mengalami perubahan karakter yang amat signifikan setelah cerita sudah berjalan setengah.

Saat kekuasaan sudah berada di dalam genggaman, sang tokoh utama pun mulai terlihat mabuk kekuasaan. Semua tindakan yang dilakukan lantas difokuskan kepada keuntungan diri pribadi untuk mempertahankan kekuasaan yang sudah berada di tangan.


Jinda mulai mengkhianati Wamon, kekasihnya dan menolak untuk membunuh suaminya, sang raja. Jinda takut jika raja mati, dia dan putranya yang masih kecil tentu akan menjadi tidak aman. Ia takut mereka tidak akan sanggup menghadapi serangan dari pasukan-pasukan musuh. Wanita ini takut negeri Ayodhaya akan hancur dan ia akan kehilangan kekuasaan sebagai ratu. Jinda lalu membujuk Wamon agar bersabar dan mau menunggu hingga putranya sudah besar, baru mereka akan membunuh raja.

Wamon percaya pada Jinda dan akhirnya bersedia memenuhi permintaan wanita itu. Tapi ternyata 4 tahun berlalu, Jinda masih tetap tidak mau membunuh raja.


Akhirnya Wamon kehilangan kesabarannya, apalagi setelah pria ini menyadari bahwa rencana yang sudah diatur semula, yaitu membunuh raja saat sedang berperang, Jinda malah menginstruksikan kepada eksekutor untuk melindungi raja, sehingga raja akhirnya pulang dengan selamat.

Wamon akhirnya menyadari bahwa Jinda sudah mengkhianati dirinya. Jinda yang sekarang sudah bukan lagi wanita yang menjadi kekasihnya yang dulu.

Wamon yang marah atas kenyataan ini, lalu memutuskan untuk membunuh raja dengan tangannya sendiri dan merebut kerajaan Ayodhaya dari tangan sang raja. Ia merancang sebuah rencana dengan ayahnya untuk merebut kekuasaan, tentu saja tanpa melibatkan diri Jinda lagi.


Akhirnya usaha Wamon ini berhasil. Ia berhasil membunuh raja Ayodhaya. Pangeran Yodfah, sang putra mahkota, putra sulung Jinda dengan raja Ayodhaya yang masih kecil lalu naik tahta menggantikan ayahnya. Tentu saja anak ini hanyalah seorang raja boneka.

Wamon sengaja membius Jinda dengan opium agar Jinda tidak bisa membantu putranya di dalam memerintah kerajaan. Dengan demikian Wamon bisa beraksi dengan leluasa untuk merebut kekuasaan.

Wamon menaruh seekor ular kobra di dalam tandu raja, dan ketika Yodfah naik ke dalam tandu, ular itu berhasil menggigitnya. Raja yang masih kecil ini pun tewas seketika.


Jinda yang kehilangan suami dan anak menjadi amat sedih. Tapi ia sadar bahwa saat ini ia tidak bisa melawan Wamon dan ayahnya. Karena ketika Ayodhaya kehilangan raja, praktis istana berada di dalam kekuasaan Wamon dan ayahnya. Wamon dan ayahnya sengaja mengganti para pejabat lama dengan orang-orangnya mereka sendiri.

Mereka sengaja mengutus Jenderal Khun ke luar perbatasan dengan alasan keamanan, padahal niat sebenarnya adalah untuk menyingkirkan jenderal ini dari istana.

Wamon mengangkat dirinya menjadi raja Ayodhaya yang baru dan mengangkat Jinda sebagai permaisurinya. Tapi Jinda diam-diam menyusun rencana untuk membalas dendam dan menggagalkan usaha Wamon menjadi penguasa di kerajaan Ayodhaya.


Jadi para penonton bisa melihat di sini, bahwa kedua orang tokoh utama yang tadinya saling mencintai akhirnya malah menjadi musuh hanya karena mabuk akan kekuasaan.

Jadi memang di dalam drama ini, tokoh protagonisnya malah berubah menjadi antagonis. Orang yang kelihatan baik pun juga berada di dalam area abu-abu. Inilah yang menjadi keunikan dari drama ini.

Unsur GL Di Dalam Drama Ini !

Oh ya, ada satu hal lagi. Sudah merupakan karakteristik dari drama Thailand. Unsur gl juga ada diselipkan di dalam drama ini. Jadi ada seorang wanita yang jatuh cinta pada Jinda, sang pemeran utama wanita di dalam drama ini.

Siapa dia?


Wanita ini adalah Tanyong, salah satu selir dari raja Ayodhaya. Untung ada Tanyong di dalam istana, kalau tidak Jinda tentu sudah lama mati dijahati orang di dalam istana. Tanyong diam-diam selalu melindungi Jinda dari gangguan orang-orang yang jahat.

Tanyong mengaku kepada Jinda bahwa Jinda adalah cinta pertamanya. Jadi kemungkinan besar Tanyong masuk ke istana dan menjadi selir juga dalam rangka barter perdamaian antara negerinya dengan kerajaan Ayodhaya. Tanyong meminta Jinda untuk merahasiakan tentang hal ini kepada siapa pun, kalau tidak tentu ia akan kehilangan jiwanya, jika rahasianya ini sampai terbongkar.


Jinda tidak bisa merahasiakan dirinya lagi kepada Tanyong. Wanita ini menceritakan segalanya kepada Tanyong. Kedua wanita ini lalu bersahabat dan berjanji untuk saling menjaga dan saling membantu di dalam istana, demi melindungi rahasia dan keselamatan diri mereka masing-masing.

Tentang Sang Aktris Pemeran Utama:

Pemeran utama dari drama ini adalah Davika Hoorne. Ia adalah seorang aktris dan model dari Thailand. Ia lahir di Bangkok pada tanggal 16 Mei 1992 dari ibu berdarah Thai dan ayah berdarah Belgia. Ia belajar di Universitas Ragsit jurusan seni komunikasi.



Ia pertama kali debut di dalam drama Ngao Kammathep. Selama karirnya ia sudah bermain lebih dari 20 judul drama dan sejumlah film bioskop. Film yang melejitkan namanya adalah Pee Mak yang rilis pada tahun 2013. Ia sudah beberapa kali memenangkan penghargaan sebagai aktris terbaik di dalam beberapa ajang penghargaan pertelevisian dan perfilman di Thailand.


Popularitas Davika juga menyebar sampai ke negeri China. Ia pernah diundang untuk turut berpartisipasi di dalam sejumlah acara TV show di China. Bahkan ia merupakan anggota tetap di dalam TV show China yang terkenal, yaitu Sisters Who Make Waves Season 5. Ia juga diajak bermain di dalam film Hongkong, Chungking Mansions sebagai pemeran pendukung.


Ia pernah terlibat cinta lokasi dengan aktor pasangan mainnya di dalam drama Chai Mai Jing Ying Tae dan Nang Sao Mai Jam Kad Nam Sakul, yaitu Ter Chantavit Dhanasevi. Hubungan ini lalu berlanjut ke dalam kehidupan nyata. Mereka mulai berpacaran pada tahun 2018. Tapi tidak tahu apakah hubungan ini masih berlanjut atau tidak sampai sekarang.

JUDUL:

THE EMPRESS OF AYODHAYA.

Tahun: 2024.

Jenis: Drama Panjang.

Genre: Drama Klasik Kerajaan Romance.

Negara Pembuat: Thailand.

Tayang Di: One 31, OneD, Netflix.

Bisa Ditonton Di: 

Netflix, One 31, OneD, Dailymotion (sub Inggris) dan Bstation (Sub Indo). 

Tayang Tanggal: 24 Oktober 2024.

Jumlah Episode: 10.

Durasi Per Episode: 47 menit.

Sutradara: Sant Srikaewlaw.

Pemain:

Davika Hoorne sebagai Jinda/Sri Sudachan.


Film Thanapat Kawila sebagai Wamon/Worawongsathirat.


Supporting Roles:

Tui Thiraphat Sajakul sebagai Raja Chairacha.


Pei Panward Hemmanee sebagai Jittrawadi/Indrasuren.


Bint Sireethorn Leearamwat sebagai La-ongkham/Sri Julalak.


Fern Nopjira Lerkkajornnamkul sebagai Tanyong/Indravedi.


Point Cholawit Meetongcom sebagai Jenderal Khun Phirenthorathep.


Klot Atthaseri sebagai Wasuthep, ayahnya Wamon.


Kob Songsit Rungnopakunsi sebagai Lord of Lopburi, ayahnya Jinda.




*********


Sumber Foto: https://sogou.com   

 

No comments:

Post a Comment